Warisan Abadi bernama Tulisan

Warisan Abadi bernama Tulisan

Apa cara terbaik agar kita rajin membaca? Jawabannya adalah rajin menulis.
Lalu apa cara terbaik agar kita rajin menulis? Jawabannya adalah rajin membaca.

Menurut Hernowo, penulis buku “Mengikat Makna”, bahwa dengan membaca dan menulis bukan hanya mendapatkan manfaat dari membaca dan menulis, melainkan juga, bahkan, efek yang begitu dahsyat. Apa efek-dahsyat itu? “Mengikat makna telah membuat saya dapat memunculkan gagasan-gagasan baru.”

Lanjut hernowo, “…gagasan tentang sekolah berpikir itu, saya kira, merupakan efek-berantai dari kegiatan mengikat makna yang saya jalankan secara kontinu dan konsisten selama tahun 2010 dan berlanjut pada enam bulan awal 2011. Bagi saya—dan ini saya rasakan benar-benar—membaca telah mengembangkan pikiran saya ke arah yang tidak saya duga. Saya diajak oleh buku-buku yang saya baca untuk mengembara ke mana-mana. Buku bagaikan kapal Christopher Columbus yang mengantarkan Columbus menemukan benua baru—saya diantar oleh sebuah buku untuk menemukan gagasan baru. Dan, menulis, sudah sangat jelas, telah membuat pikiran saya yang mengembara ke mana-mana itu menjadi matang—menemukan gagasan yang baru dan unik yang berhasil saya konstruksi”

“Membaca membutuhkan menulis dan menulis membutuhkan membaca.”
—Aturan Emas “Mengikat Makna”

Bila masih belum termotivasi untuk menulis dengan melihat betapa efek dahsyatnya membaca dan menulis dengan bertualang seperti Pak Hernowo, mungkin motivasi terakhir berikut bisa meyakinkan kita betapa penting menulis, berbagi dan membaca.

Steven Covey, pengarang buku Eight Habits, pernah mengatakan, orang harus punya sesuatu yang bisa diwariskan setelah mati selain nama. “Covey bilang apa sih yang ingin orang ucapkan tentang kamu di depan makam kamu. Cuma nama saja, atau kamu ingin diumpat sebagai penjahat, atau diingat karya-karyanya atau pemikirannya?”

Terdorong hal itu, menulis buku adalah jawabannya. Bagi Rhenald Kasali, bisa menulis buku itu satu anugerah, suatu kebanggaan yang tidak terhingga lantaran penulisnya meninggalkan warisan pemikiran kepada orang lain.

Semua itu terwujud saat anaknya memperlihatkan kebanggaan ketika tahu di perpustakaan sekolah ada buku yang ditulis ayahnya. “Yang paling membahagiakan, saya kira ke¬banggaan anak-anak saya itu.

Selain itu, sewaktu sekolah di Amerika, saya tak bisa menyembunyikan kebanggaan saya ketika secara iseng-iseng buka katalog di perpustakaan, ternyata keluar nama saya. Teman-teman yang ada di situ pada bingung semuanya. Saya juga enggak nyangka bahwa perpustakaan tempat saya mengambil gelar doktor itu ternyata mengoleksi buku saya,” papar Rhenald.

Sejak tahun 1994, ia sudah menulis 10 judul buku. Tema yang ditulis di bidang marketing dan manajemen sesuai dengan keahliannya. Buku-buku karangannya rata-rata masuk dalam buku-buku best seller, seperti Manajemen Periklanan, Manajemen Public Relation, dan Membidik Pasar Indonesia. Buku-buku tersebut terjual di atas 20.000 eksemplar. Kini buku yang dia tulis, jauh lebih banyak, dan rata-rata memiliki apresiasi yang positif di masyarakat.

Nah, sekarang –lagi-lagi— apa yang dapat diambil dari pengalaman menulis Rhenald Kasali? Kali ini pengalaman itu tampaknya lebih filosofis.

Pertama, pentingnya meninggalkan nama setelah mati. Setiap orang pasti mati, karena itu, jika ingin dikenang menulis adalah jawabannya. Kata peribahasa, gajah mati tinggalkan gading manusia mati tinggalkan nama. Peribahasa ini menjadi luar biasa, manakala kita dapat menerjemahkannya dalam praksis hidup dengan gairah menulis dalam denyut nadi.

Kedua, menulis itu membanggakan. Awas, sesungguhnya menulis bukan untuk bangga-banggaan, tetapi siapa sih yang tidak bangga jika tulisan kita dibaca orang lain? Apalagi jika itu berbentuk buku yang abadi dalam sepanjang waktu? Anak cucu dapat menikmati nama ayah-atau ibunya yang diabadikan di perpustakaan.

Karena itu, barangkali, menulis buku karenanya, lebih berharga daripada harta benda yang kita wariskan kepada generasi nantinya. Sebab, dalam menulis ada ilmu yang kita wariskan. Jika agama mengatakan zakatnya ilmu dengan mengamalkanlah, maka dengan menuliskan pikiran dan ilmu pengetahuan berarti kita telah “terbebas” dari dosa, kikir terhadap ilmu yang telah kita terima.

Ketiga, menulis jadi jembatan beramal. Sebagaimana disinggung pada poin kedua, maka hakikat berbagi ilmu dengan sendirinya adalah beramal. Amal ilmu adalah dengan menularkannya. Untuk itu, secara filosofis, hal ketiga ini pentingnya kita agar tidak kikir dalam berilmu. Ilmu diamalkan akan bertambah!

Nah, tunggu apalagi? Mulai beramal dengan ilmu, marilah kita sadari sedini hari. Bukankah umur tak kekal jika dibandingkan ilmu yang diamalkan? Untuk itu, marilah kita tuangkan ilmu yang kita miliki dengan menuliskannya sehingga pesan hadis yang mengatakan, “matinya ‘alim adalah matinya alam semesta” dapat dihindarkan.

Jangan beralasan tidak berilmu, dimensi ilmu dalam lembar hidup ini terentang dalam segenap gerak dan langkah hidup kita. Tunggu apa lagi? Berbagi ilmu adalah ibadah, kikir terhadap ilmu na’udubilah.

Selamat Menulis dan Berbagi sebanyak-banyaknya🙂

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on March 1, 2013, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: