Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal Sebagai Pondasi Dasar Pemberdayaan Masyarakat

“Problema anak nelayan adalah, apabila pergi ke sekolah dia tidak bisa pergi ke laut membantu keluarganya. Sebailiknya jika melaut membantu orang tuanya, maka tidak bisa ke sekolah. Pertanyaannya adalah mengapa Melaut tidak menjadi program pendidikan untuk anak nelayan. Sesungguhnya banyak yang bisa dipelari dan dikembangkan dari kehidupan pesisir dan laut: ilmu perbintangan, ilmu perikanan, ilmu pembuatan kapal, ilmu konservasi alam dan hutan mangrove, ilmu menghasilkan energi dari angin dan gelombang air laut dsbnya. Sesungguhnya dengan model pendidikan spt itu, anak-anak nelayan bisa tampil mandiri pada usia belasan tahun lalu kemudian mampu memberdayakan desa2 nelayan””

Sinergi antara dunia pendidikan dengan dunia riil di masyarakat sangat dibutuhkan. Pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan di sekolah perlu juga dikembangkan di tengah-tengah masyarakat agar relevan dan sinergis dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dengan harapan pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik dari sisi pengetahuan maupun penyelesaian masalah kontekstual yang dihadapi sehari-hari. Selama ini pendidikan belum bisa memenuhi semua tuntutan masyarakat, terutama bidang keterampilan hidup sesuai kondisi lokal hidup siswa. Materi pembelajaran sering tidak sejalan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Konsekuensinya, setelah lulus sekolah siswa tidak bisa langsung menerapkan teori yang didapatkan dari sekolah.

Diketahui bersama, pendidikan sangat erat kaitannya dengan transformasi sosial. Sebab pendidikan juga bagian dari sistem sosial. Relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia riil menjadi kebutuhan mendesak untuk direalisasikan. Inovasi pendidikan telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Inovasi ini tidak hanya tataran konseptual strategik tetapi juga terjadi proses inovasi pada tataran praktis. Mulai dari kurikulum, pola manajemen, pembelajaran, hingga promosi lulusan lembaga pendidikan pada setiap jenjang.

Perbaikan pada sistem pendidikan selama ini, masih perlu pengembangan yang lebih komprehensif. Sehingga pendidikan dapat menyentuh dan sinergi dengan dinamika sosial yang berlangsung. Fenomena yang terjadi, antara dunia pendidikan dan perkembangan masyarakat tidak relevan. Kebutuhan masyarakat belum bisa diwujudkan sepenuhnya oleh lembaga pendidikan. Di antara indikator masalah ini adalah, lulusan Lembaga Pendidikan belum siap pakai karena hanya menguasai teori, dan miskin keterampilan. Selain itu juga disebabkan materi pendidikan tidak sesuai potensi daerah dimana siswa bertempat tinggal. Materi pelajaran dan konteks kehidupan siswa pun tidak ada kesesuaian. Sehingga transformasi pendidikan dalam kehidupan siswa mengalami bias tujuan (utopis). Untuk itu, sekolah berkeunggulan lokal dibutuhkan sebagai alternatif menutup kesenjangan tesebut.

Untuk itu, daerah-daerah kabupaten harus memiliki Lembaga Pendidikan yang menjadi pilot project untuk mengembangkan potensi daerah, agar sumber daya lokal yang telah dimiliki dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat (siswa) dan daerah itu sendiri. Langkah tersebut harus ditanggapi oleh pemerintah terkait sebagai usaha kongkrit dalam pembangunan dan pengembangan potensi daerah. Masyarakat harus dilibatkan untuk berperan aktif untuk sama-sama mewujudkan pendidikan berbasis keunggulan lokal agar bermanfaat bagi kesejahteraan daerah (pemerintah) dan masyarakat. Hal ini merupakan panggilan untuk meningkatan kapasitas masyarakat yang berdaya, kalau pun tidak, pemerintah dan masyarakat harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan potensi yang ada.

Konsep Sekolah Berkeunggulan Lokal

Setiap daerah memiliki potensi dan keragaman karya yang dihasilkan sebagai ciri khas daerah tersebut. Misalnya, di Dompu ada keunggulan keunggulan di bidang pertanian dan peternakan, yaitu padi, kambing, sapi dan Kuda. Di Bima ada keunggulan lokal bahari dan pertanian, Sumbawa ada pertambangan dan peternakan, Lombok ada pariwisata dan pertanian, serta keunggulan lokal di daerah lain. Satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal merupakan paradigma baru pendidikan untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah berdasarkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal.

Dalam hal ini pewilayahan komoditas harus diselaraskan dengan lokalisasi pendidikan dengan basis keunggulan lokal. Hak ini bukan saja berkaitan dengan kurikulum yang memperhatikan muatan lokal (UU Sisdiknas pasal 37 ayat 1 huruf j), melainkan lebih memperjelas spesialisasi peserta didik, untuk segera memasuki dunia kerja di lingkungan terdekatnya. Dengan demikian persoalan penyediaan tenaga kerja dengan mudah teratasi dan bahkan dapat tercipta secara otomatis.

Keunggulan lokal di sini dapat diartikan segala potensi dan karya di suatu daerah yang menjadi karakteristik daerah tersebut. Keunggulan lokal ini juga berarti sumberdaya (resources) alam dan manusia yang terdapat di suatu daerah. Keunggulan lokal ini merupakan paduan dari pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk menyesuaikan pendidikan dengan kondisi aktual di setiap daerah.

Sehingga pembelajaran menjadi aktual dan mengarah pada pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Dengan demikian keunggulan lokal merupakan ciri khas daerah yang dihasilkan dari potensi alam dan potensi manusia yang ada di suatu daerah. Keunggulan lokal inilah yang menjadi bahan untuk terus dikembangkan setiap daerah sehingga menjadi kumpulan potensi yang telah dikembangkan dan menjadi barometer pengembangan daerah setempat.

Pengembangan bidang pendidikan telah menjadi hal penting dalam rancangan pembangunan nasional. Bahwa, keberhasilan pendidikan akan berpengaruh terhadap peningkatan sektor lain secara simultan. Untuk itu, dalam pengembangan ini, sekolah perlu melakukan kajian dengan melibatkan semua stakeholder pendidikan untuk merumuskan bersama tentang keunggulan lokal yang akan dimasukkan dalam pendidikan berbasis potensi daerah. Sehingga keunggulan lokal terintegrasi dalam materi belajar yang disusun sesuai jenjang pendidikan siswa. Bahkan jika memungkinkan materi keunggulan lokal menjadi integral dengan kurikulum nasional berciri khas lokal.

Model penyelenggaraan pendidikan yang mempertimbangkan keuntungan geografis dan demografis inilah yang bisa mewujudkan pendidikan nyata. Yaitu pendidikan yang dikelola sesuai kebutuhan lokal masyarakat. Penyesuaian materi dengan kebutuhan lokal dipadukan dalam praktek pendidikan. Sebab, tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat sosial. Model pendidikan inilah yang diharapkan bisa mengakomodir segala kebutuhan masyarakat. Pendidikan model ini berangkat dari analisis potensi lokal pada setiap daerah yang karakteristiknya berbeda.

Ditinjau dari fungsinya, pendidikan merupakan salah satu lembaga pelayanan publik bidang jasa. Sehingga pendidikan perlu meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang salah satunya adalah dengan menyesuaikan materi pembelajaran sesuai kebutuhan masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan. Semakin tinggi kesesuaian materi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat maka akan semakin bagus pelayanan pendidikan yang diberikan pada masyarakat. Untuk itu, pendidikan perlu memanfaatkan sumberdaya lokal sebagai acuan untuk meningkatkan mutu dan layanan pendidikan. Selama ini model pendidikan Indonesia masih belum sinergi antara materi dengan kebutuhan lokal. Sehingga output lembaga pendidikan belum memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kecakapan hidup yang memadai di tengah-tengah masyarakat.

Upaya peningkatan mutu pendidikan perlu mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu: (1) perlu kebijakan peningkatan mutu dengan mempengaruhi faktor-faktor yang berperan dalam sekolah, (2) penyelenggaraan pendidikan lebih banyak dilakukan pada tingkat satuan pendidikan, dan (3) penyesuaian kurikulum pendidikan dengan kebutuhan lokal. Pernyataan ini menuntut penyelenggaraan pendidikan yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal. Siswa diajarkan bagaimana cara menggali dan mengelola potensi daerah sehingga menjadi karya yang bisa memperbaiki taraf hidup masyarakat dalam berbagai bentuknya.

Dengan demikian, sekolah akan memiliki karakteristik khusus sekaligus menjadi tolak ukur kualitas pendidikan lokal. Sweetland dan Hoy (2000) mengatakan pembentukan karakteristik sekolah ini sangat penting dilakukan. Karakteristik sekolah akan menunjukkan kualitas. Pembentukan karakteristik sekolah cukup sulit dan melibatkan berbagai unsur dalam pendidikan. Dari paparan di atas menegaskan bahwa model Lembaga Pendidikan berbasis keunggulan lokal telah menjadi kebutuhan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Tentunya dengan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah perubahan masyarakat yang cenderung menuntut keterampilan dan pengetahuan spesifik. Kebutuhan lokal menjadi salah satu tuntutan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan.

Model sekolah berbasis keunggulan ini perlu dikembangkan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Tidak hanya SMK saja, tetapi juga sangat mungkin dikembangkan pada sekolah umum dan madrasah. Sebab pendidikan saat ini perlu diarahkan pada multi skill. Sehingga lulusan bisa memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan mata pelajaran keterampilan yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat. Potensi lokal menjadi bahan pertimbangan utama dalam memilih materi pelajaran berbasis keunggulan lokal ini.

Dengan memperkuat mata pelajaran keterampilan yang mengarah pada kebutuhan masyarakat ini akan bisa meningkatkan daya eksistensi sekolah di sebuah daerah. Sebab, minat masyarakat untuk berpendidikan akan meningkat dan secara otomatis pengakuan masyarakat terhadap keberadaan pendidikan tersebut akan semakin tinggi. Dengan berbekal mutli skill maka siswa akan cepat diterima masyarakat, karena keterampilan yang dimiliki bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, model pembelajaran sekolah berbasis keunggulan lokal ini harus banyak dilakukan dalam bentuk praktek dan bekerjasama dengan dunia usaha.

Salah satu ukuran keberhasilan sekolah adalah output lembaga pendidikan yang terampil dan diterima masyarakat sesuai keahlian yang didapat di lembaga pendidikan. Dengan demikian, model sekolah berbasis keunggulan lokal menjadi penting untuk direalisasikan dan dikembangkan pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Selain untuk memenuhi tuntutan masyarakat dalam menyelesaikan masalah hidup juga meningkatkan daya eksistensi sekolah di daerah.

Saya jadi teringat ucapan Imam Ghazali “…sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat bagi kaumnya…”

By Harry Santosa and Windu Sundari Syafei in Millenial Learning Center

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on March 1, 2013, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: