??ini kearifan lokal

Surau – Pendidikan Komunitas Berbasis Kearifan Lokal

Dahulu Surau adalah sentra pendidikan peradaban berbasis masyarakat di desa-desa di Minangkabau, Sumatera Barat.

Sebuah konsep pendidikan yang berbeda jauh dari konsep “schooling” yang kita kenal hari ini, dimana nilai berupa angka dan kepintaran akademis dipertuhankan. Pendidikan yang mengukur keberhasilannya dari kedewasaan, keshalihan dan kemandirian para remaja desa yang sudah aqil baligh. Suatu ukuran yang tidak dapat dimanipulasi siapapun, karena masyarakat menjadi saksinya.

Anak lelaki remaja yang sudah baligh, dibudayakan malu untuk tidur di rumah, mereka tidur di Surau untuk di tempa dan dibina aqil dan kemandiriannya menuju aqil baligh menjadi pribadi mukalaf yang mampu menjalani masa sinnu taklif, dimana kewajiban syar’i fardu ain dan fardu kifayah telah setara dengan kedua orang tuanya.

Anak-anak itu tidur, makan, belajar dan bercengkerama dalam kebersamaan. Tiada bodoh dan pintar, tiada nilai rapot, yang ada adalah pengakuan pemimpin Surau dan warga bahwa ia telah sholeh dan telah mandiri serta bermanfaat.

Konon para orientalis berbulan-bulan mempelajari konsep pendidikan Surau sehingga munculah kurikulum berbasis kompeten (KBK) minus iman dan akhlak yang lalu diadopsi kembali oleh bangsa ini.🙂

Sebuah surau dipimpin oleh seorang local leader, dia adalah seorang ulama (Labay). Sedangkan yang merupakan wakil ulama yang mengurusi keperluan surau dan disebut Gharin.

Labay atau Buya tidak bisa diharapkan 100% hadir mengurusi surau karena selain tugas keagamaan, ia juga melakoni tugas mencari nafkah untuk keluarganya. Seorang Buya atau Labay dalam kesehariannya bisa saja sebagai petani, pedagang, penjahit, atau apa saja. Mereka biasanya merupakan teladan dalam hal keshalehan pribadi dan keshalehan sosial, begitupula teladan dalam pertanian dan perdagangan dsbnya. Karena sejatinya merekalah Guru, Ulama dan model keteladanan di desa.

Modeling kepemimpinan dan keteladanan inilah sepanjang sejarah yang melahirkan kepemimpinan.

Dalam kultur surau, pembantu Labay selain Gharin adalah Pandeka yang bertugas mengajari ilmu siasat dan pencak silat yang lazim disebut sebagai pelajaran tentang Langkah Yang Empat. Oleh Labay, Pandeka juga diberi upah yang layak untuk menopang hidupnya.

Dan Labay, meskipun tidak mengharapkan upah dari murid-muridnya, selain sebagai rasa cinta kepada agama dan guru, murid biasanya membawakan ayam, ikan, beras, telor bahkan uang sebagai kompensasi hilangnya waktu Labay dalam mencari nafkah di luar. Komunitaslah atau masyarakatlah secara ikhlash tanpa diminta bahu membahu secara bersama mengembangkan pendidikan ini.

Tidak ada metode canggih yang digunakan kecuali cinta, keikhlasan dan kebersamaan dalam tumbuh kembang dalam bingkai-bingkai keimanan, ilmu yang bermanfaat serta akhlak yang mulia. Satu-satunya teknik pendidikan adalah sorogan dan halaqoh serta terjun langsung di sawah dan di pasar. Di pendidikan seperti inilah lahir Ulama-ulama tangguh dan teruji zaman sekelas Prof DR. Hamka.

Para pemimipin surau inilah ayah kolektif bagi para anak dan remaja. Ayah yang ulama dan ayah yang guru sekaligus pemimpin dalam keteladanan ilmu, iman dan akhlak.

Melahirkan Local Leader.

Konsep Surau sangat luarbiasa untuk mmembangun kepemimpinan dalam diri anak dan remaja, karena membangun potensi yang ada dalam diri anak-anak, membutuhkan komitmen yang kuat untuk menggali dan membangun dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, dan dalam setiap kesempatan yang ada, dalam hubungan yang kuat, dan sarat dengan penerimaan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya, yaitu orang tua, guru dan lingkungan. Di sinilah keunggulan konsep Pendidikan Surau.

Menurut Stephan R. Covey, tingkat dasar dari Pyramid of Influence adalah Modelling, yaitu contoh atau teladan. Tingkat pyramid berikutnya adalah hubungan, dan puncak pyramid pengaruh adalah didikan atau pengajaran.

Jadi, membangun kepemimpinan dalam diri anak-anak, adalah dengan cara membangun member dampak dalam diri mereka. Memberi dampak (Influencing) adalah suatu kemampuan yang dapat dikembangkan, yaitu dimulai dengan modeling, lalu hubungan dan kemudian didikan. Inilah sejatinya yang dijalankan secara sederhana dalam konsep pendidikan surau.

Modelling

Modelling, yaitu dengan member contoh dan teladan, kitalah contohnya, contoh apa yang kita berikan? Antara lain, bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, bagaimana kita belajar, bagaimana kita berbicara, tetapi melakukan dan menjadi contoh atas apa yang kita ajarkan, maka anak-anak akan melihat dan membangkitkan kepercayaan dalam diri mereka. Hasil dari modelling ini adalah terbangun kepercayaan yang kuat.

Hubungan

Hubungan, yaitu bagaimana kualitas hubungan yang terbangun, bagaimana kita mendengar mereka, bagaimana kita memuji mereka, bagaimana kita bersikap ketika mereka belum berhasil, ditandai dengan kepedulian, perhatian, dan empati. Hubungan yang positif, seperti hubungan pershabatan akan berbekas dalam diri anak-anak, dan anak yang cenderung berprestasi adalah mereka yang memiliki orang tua dan guru yang tidak pernah lupa bahwa hal terpenting yang bisa mereka lakukan menjalin hubungan yang positif dengan anak-anaknya. Hasil dari membangun hubungan ini, antara lain anak-anak menemukan potensi dirinya dan terbangun rasa percaya diri dan keberhargaan diri.

Didikan

Didikan, yaitu dengan keterampilan mengembangkan potensi diri, karakter dan hubungan pribadi yang kuat dengan Tuhan, membangun kemandirian atau kepemimpinan diri, dan keberanian mengkomunikasikan buah pikirannya.

Ketika anak-anak menaruh keimanan kepada Allah swt, sumber segala hikmat, kepada orang tua dan guru (ulama dan pemimpin), maka hubungan akan mudah terbangun. Hubungan yang baik akan menjadi dasar untuk menerima didikan, ajaran atau pengaruh, dan setiap usaha yang dilakukan, pasti menghasilkan perubahan.

Pendidikan bebasis kearifan lokal yang dikelola bersama dengan target kemandirian dan keshalehan para pemuda serta melahirkan kepemimpinan inilah yang diamanahkan oleh alQur’an, dicontohkan oleh Rasulullah saw dan diterapkan oleh para Ulama sepanjang sejarah peradaban Islam… lalu mengapa kita tidak mewujudkannya bahkan lebih suka merobohkannya tanpa sadar??

Salam Pendidikan Masa Depan

Harry Santosa

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on March 1, 2013, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: