BERSAMA IT PENDIDIKAN :SEBUAH HARAPAN DAN KECEMASAN

Alhamdulillah, empat hari menjadi master of educational training yang diadakan PT Microsoft Indonesia membuat saya berkenalan lebih dalam dengan komunitas telematika pendidikan. Ternyata keliru dan bodoh kalau saya selama ini beranggapan bahwa peran IT di dunia pendidikan sebatas mendukung sistem administrasi dan manajemen pendidikan belaka. Tidak, IT telah masuk ke dalam ranah pendidikan itu sendiri, bahkan telah menjadi sistem pendidikan itu sendiri. Betapa menyenangkannya bahwa IT telah meringankan sekian banyak kerumitan pendidikan : mulai dari membuat bank soal, memeriksa PR, menilai hasil ujian, mengukur kompetensi, pembelajaran jarak jauh, atau memantau kegiatan belajar siswa.

Sebagaimana wataknya, IT telah menyederhanakan yang rumit, mengkategorikan yang acak, mengkuantifikasi yang kualitatif, mengukur yang sebelumnya kasat mata, mengkomputasi dan mengkalkulasi. Jelas, IT membantu pendidikan untuk meningkatkan validitas, mem-breakdown kriteria keberhasilan ke dalam indikator-indikator terukur, serta mengilmiahkan proses pendidikan itu sendiri : terstandard, obyektif, clear, countable dan measurable. Dan kekagumanpun terus berlanjut.

Mari kita lihat betapa IT dapat membuat segalanya menjadi mudah :

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diluncurkan pemerintah resmi sejak 2004, telah membuat guru dan pelaku pendidikan menjadi tunggang-langgang. Karena kompetensi adalah suatu kompleks kecakapan yang utuh, nyata, serta harus dapat dirasakan dan dipertanggungjawabkan. Tapi bagi IT segalanya dapat menjadi mudah dan sederhana. Kompetensi adalah kecakapan yang berasal dari akumulasi sejumlah sub keterampilan, sebagaimana mobil Tamiya berasal dari komponen-komponen yang sebelumnya terurai : Completely Knock Down. Bukankah kompleksitas berasal dari elemen-elemen, dan kriteria dapat diturunkan ke dalam indikator-indikator terukur ? Bukankah kebenaran dapat diberikan angka satu dan kesalahan adalah nol, sedangkan sangat baik dapat diberikan angka tujuh dalam sebuah skala kualitas dari 0 sampai 9 ? Wow…

Maka, jika kita ingin mengukur kompetensi seorang siswa dibidang kesekretariatan, sedangkan kompetensi kesekretariatan meliputi elemen filling, surat-menyurat, menerima telepon, membuat jadwal, dan notolensi, dengan demikian kita dapat mengukurnya satu demi satu secara kuantitatif by IT. Bukankah lewat IT kita dapat mendesain sistem dan standard filling, letter standard form, time table standard form dan sebagainya ?. Dan, jika masing-masing sub-keterampilan tersebut mendapat nilai A, maka iapun layak diluluskan sebagai seorang sekretaris dengan predikat Cum Laude.

Sampai di sini tiba-tiba saya punya kecemasan. Bagaimanapun seorang sekretaris punya dimensi yang intangible. Dia perlu punya ketulusan, hasrat melayani, gairah dan kehangatan seorang manusia, atau satu set secretarial manner. Secretarial manner barangkali juga bisa diurai ke dalam indikator-indikator terukur. Tapi, percayalah, nilai A untuk seluruh indikator secretarial manner tidak akan menjamin bahwa ia akan menjadi sekretaris dengan manner yang baik. Saya percaya bahwa para pakar IT pendidikan sama sekali tak berpretensi bahwa IT akan menjadi segalanya untuk pendidikan. Kecemasan ini lebih disebabkan karena saya juga menyaksikan gejala IT fever, IT mania atau over IT pada sekalangan pendidik yang kebetulan baru melek IT.

TERINGAT SEJARAH PSIKOLOGIKiprah IT di pendidikan membuat saya menerawang ke sejarah psikologi nun di abad 19. Setelah melalanglang buana di ranah filsafat dan pseudo ilmiah selama berabad-abad sejak era Socrates, akhirnya psikologipun resmi masuk ke dalam keluarga besar sains. Itu berkat ulah Wilheim Wundt yang mendirikan laboratorium psikologi di Universitas Leipzig, Jerman, tahun 1879.

Sejak saat itu, psikologi dengan gagahnya keluar-masuk laboratorium. Ia bukan lagi ilmu jiwa, namun ilmu perilaku, karena perilaku lebih terukur. Kesedihan yang intangible telah bisa diurai ke dalam elemen-elemen yang empirik dan opservable seperti ekspresi murung, dagu yang tertekuk ke bawah, kelopak mata yang nyaris tertutup, dan airmata yang menetes. Psikologi konon menjadi ilmiah ketika aliran elementisme berjaya.

Berbekal elementisme, psikologi nan ilmiah pun masuk dan diterima baik di Amerika. Amerika yang pragmatis memang cocok dengan elementisme. Lalu racikan keduanya melahirkan aliran Behaviorisme. Di sini perilaku menjadi lebih terurai dan terukur. Proses pendidikan bisa dipahami dalam konteks reward dan punishment. Pavlov menilai proses conditioning pada seekor anjing dapat dilihat pada air liur yang menetes dari mulutnya. Bahkan John Watson, seorang tokoh Behaviorisme, bisa mereduksi berpikir ke dalam gerak lidah. Katanya, “Berpikir adalah gerak lidah yang tak kelihatan”. Lha…

Namun, celakanya, psikologi hampir mati suri dan kehilangan jatidiri justru ketika ia menjadi begitu “ilmiah”, eksperimental dan teknis. Betapa tidak jika psikologi-pun bahkan bukan lagi ilmu jiwa, tapi ilmu perilaku. Sementara itu kemanusiaan dan kepribadian yang begitu unik, utuh dan kompleks telah mengalami penyederhanaan, reduksi dan pengaplingan. Individu kemudian hanya bisa dikaji dalam wilayah-wilayah yang empirik-rasional, observable, dan terukur (setidak-tidaknya dalam definisi saat itu). Sedangkan kajian-kajian di luar standard-standard tersebut akan masuk dalam kategori takhayul atau pseudo ilmiah.

AMERICAN STYLE OF I TKembali kepada persoalan IT untuk pendidikan. Jujur saja saya memiliki kecemasan bahwa prinsip dan program yang ditawarkan IT untuk pendidikan terlalu American. Aroma elementisme, simplifikasi dan reduksionisme terlalu kental, serta cenderung mengenyampingkan tradisi dan budaya pendidikan yang ada. Distance learning, misalnya, adalah sumbangan IT yang luar biasa dalam mengatasi kendala ruang dan waktu bagi pendidikan. Namun apakah kita telah cukup memiliki tradisi dan budaya belajar yang mandiri ?

Banyak contoh yang mengajarkan dan mengingatkan kita betapa mengadaptasi suatu sistem dan pendekatan tanpa memahami latar belakang sistem nilai, filosofi dan psikohistorisnya akan menjerumuskan kita pada peniruan yang berbahaya. Kita telah meniru sistem evaluasi dengan pendekatan multiple choices (pilihan ganda) yang sangat American dan meninggalkan ujian lisan dan essay yang European. Putusan itu sangat pragmatis, simplifikatif dan reduksionis.

APAKAH I T PUNYA MAZHAB ?Pernyataan ini berangkat dari kesadaran bahwa IT adalah teknologi, teknologi adalah anak kandung dari sains, sedangkan sains adalah anak kandung dari filsafat. Secara filsafat keilmuan bukankah setiap ilmu memiliki dasar ontologisnya sendiri ? Secara filsafat keilmuan bukankah setiap teknologi memiliki asumsi aksiologisnya sendiri ? Bukankah yang membedakan antara cara kerja jamu dengan obat-obatan farmakologis terletak pada landasan ontologisnya tentang tubuh manusia ? Maka, kedokteran Barat dan kedokteran Cina adalah dua mazhab yang berbeda karena landasan ontologis yang berbeda.

Terus terang, saya adalah orang yang awam tentang IT. Dan sejumlah pelaku IT berusaha meyakinkan saya bahwa (hingga saat ini) IT tidak memiliki mazhab. Tapi secara filosofis dan experiential saya meyakini bahwa IT memiliki mazhab. Dan mazhab yang sangat berkuasa saat ini adalah American Style of IT nan elementik, simplisistik, reduksionik, analitik, deskriptif, kuantitatif, obyektif, biner, dan linier.

Keyakinan ini berangkat dari pengalaman persentuhan psikologi dengan IT. Pada awalnya, ketika psikologi bersentuhan dengan IT yang American, betapa tugas diagnostik para psikolog menjadi begitu ”diringankan”, karena skor IQ seseorang dapat diperoleh dalam hitungan detik, sedangkan dinamika kepribadian seseorang telah tercetak dalam bentuk diagram dan uraian hanya dalam hitungan menit. Bahkan, lewat ”bantuan” IT tes gambar pohon (Baum Test) sudah bisa dibuat multiple choices oleh seorang psikolog yang ”nakal”, dan diagnosisnya telah dapat dibaca beberapa menit kemudian !

Untunglah, bersamaan dengan itu, IT yang lebih European juga hadir untuk menawarkan alternatif. Mereka menawarkan jasa IT yang lebih kualitatif, humanis, inferensial, multi-interpretatif, multi-dimensi, dan intersubyektif. Mereka menawarkan jasa pengambilan dan pengolahan data, namun memberikan kewenangan sepenuhnya kepada para psikolog untuk menyimpulkan dan menginterpretasikannya. Jika IT yang American menjanjikan kepastian, maka IT yang European ini menawarkan kemungkinan !. Jika American IT mencoba menawarkan sebuah pedang sakti, maka European IT tetap mengakui kehandalan Sang Pendekar. Secara teknis sama sekali tak ada perbedaan antara yang American atau yang European. Namun secara teknologis perbedaan ontologi, aksiologi dan style diantara keduanya begitu kentara.

Tulisan cukup panjang ini sebenarnya hanyalah undangan kepada para pelaku pendidikan dan IT pendidikan untuk berdiskusi sekaligus tawaran untuk melihat kemungkinan bahwa teknologi tak pernah sepenuhnya bebas nilai. Determinasi IT ke ranah pendidikan harus diterima dengan riang dan tangan terbuka karena faktanya memang sangat berguna, namun sekaligus perlu dimaknai dan dijalankan dengan kearifan lokal. Setidaknya, kehadirannya harus menawarkan sejumlah alternatif ontologis dan aksiologis agar pendidikan tetap memiliki hak untuk memilah dan memilih tawaran yang paling memberdayakan bagi pendidikan Indonesia yang tak kunjung punya watak dan mampu membangkitkan kualitas sumber daya manusia yang terpuruk.

This article is available at http://emelci.or.id/groups/PendidikanKehidupan/ITSocialMediaForEdu/docs/bersama-it-pendidikan-sebuah-harapan-dan-kecemasan
All of the interesting discussions are copied in bellow :

Harry Santosa jazakallahu ustadz🙂 great post!June 6 at 12:29pm · Like

Sabrul Jamil Menarik sekali (seperti biasanya sih). Belum bisa komen banyak, kecuali, sebagai pekerja IT, segagah apa pun saya (ehm), selama ini saya tetap melihat posisi IT adalah senjata di tangan seorang eksekutor. Mau digunakan untuk apa, bagaimana, dan dengan alasan apa, tergantung si penggenggamnya. (Paling2, kalo saya enggak sreg, sy tinggal bilang: ente cari orang lain aja ya buat ngerjain😀 )June 6 at 2:06pm · Unlike · 3

Eko Budhi Suprasetiawan Colek Bayu Widyasanyata :)June 6 at 2:29pm · Unlike · 1

Bayu Widyasanyata Alhamdulillah.. inline dng “email-nya”🙂 — Memang Allah sang Maha “Sutradara”…June 6 at 2:44pm · Unlike · 1

Deddy Rahman pak Adriano Rusfi, bisa kasi contoh software apa yg pake IT American dan yg pake IT European ? kalo ga pake contoh, saya ga faham maksud tulisan diatas :)June 6 at 4:36pm · LikeHarry Santosa mas Bayu Widyasanyata , ini artikel yg dijanjikan ustadz Adriano Rusfi terkait sharing expert utk pendidikan. Mungkin perlu dikembangkan lagi.June 6 at 8:21pm · Like

Adriano Rusfi Mas Deddy Rahman, tentang American IT dan European IT, itu baru dugaan-dugaan saya saja. Justru saya ingin mengajak berdiskusi (sejak 2005) : Apakah IT punya madzhab ? Perasaan saya, praktek IT di dunia pendidikan saat ini sangat “American” : biner, elementisme, reduksionis, simplifikasi, kuantitatif dsb.

Nah, di dunia Psikologi, adanya perasaan bahwa ada “American IT” dan “European IT” karena ada dua model sistem aplikasi dan pengolah data :

Pertama : langsung menghasilkan skor, penilaian, judgement, kategori, klasifikasi dsb. Seolah-olah komputer telah menggantikan psikolog. Model ini menawarkan kepastian. Ini yang saya bilang berbau American

Kedua : sifatnya memberikan information and diagnosis support. Yang dikeluarkan biasanya adalah grafik, preferensi, asusmsi dsb. Informasi yang dihasilkannya sangat membuka mata untuk mengambil keputusan. Model ini menawarkan kemungkinan. Karena kebetulan model ini buatan Jerman, maka saya anggap saja sebagai “European IT”June 7 at 9:39pm · Unlike · 5

Sabrul Jamil imho, menurut kebiasaan saya selama ini, IT lebih bersifat memberikan apa yang diminta oleh User. Begitu ust Adriano Rusfi. Jadi, mungkin saja, pekerja IT yg sama, satu saat mengerjakan order dari amrik, dan beberapa bulan kemudian, dia mengerjakan order dari europe. Tentang mazhab, paling2 yg ada adalah open source versus di luar itu :)June 8 at 5:44am · Like · 1

Sabrul Jamil oya, soal open source vs selainnya, sy mengenal orang2 IT yang menganggap ini sudah semacam ideologi, jadi lebih dari sekedar mazhab :DJune 8 at 5:45am · Unlike · 1

Sabrul Jamil bang Deddy Rahman: katapedia masuk kategori amrik or eropah? ;)June 8 at 5:49am · Like

Deddy Rahman Katapedia masuk kategori IT Depok :DJune 8 at 2:59pm · Like

Adriano Rusfi Kalo begitu, kita sebut saja IT Style Mas Sabrul Jamil : American, European atau Confucian Style of IT. Yang bikin sih bisa siapa saja : Depok, Aachen atau Detroit.

Kalau produknya cenderung biner, elementisme, reduksionis, simplifikasi, kuantitatif dsb., maka kita sebut saya American Style of IT. Kalo produknya bersifat induksionis, informatif, suportif, kualitatif dsb. maka kita sebut saja European Style of IT

Di sebuah lembaga konsultan IT yang pernah saya konsultani selama dua tahun, agar lembaga tersebut tak sekadar memenuhi pesanan user, saya mungusulkan perubahan positioning : from IT Consulting, to IT-based ConsultingJune 9 at 9:38pm · Unlike · 4

Rahmat Saripudin menarik sekali tulisan bang aad… saya hanya share beberapa hal:IT bisa menjadi alat, base, sistem maupun budaya… hanya saja, sadar atau tidak kita sudah mulai memasuki “budaya IT”.. bahkan hingga ke pelosok nun jauh di sana… yang menjadi tantangan selanjutnya adalah, bagaimana menjadikan IT, budaya IT, pendidikan, budaya pendidikan, budaya IT di pendidikan, atau IT-nisasi Pendidikan menjadi sepadu sepadan dalam mewujudkan BUDAYA BELAJAR… hal lain yang juga ingin saya share (gak enak kalau nerima terus ya, gak pake share🙂 ) … bagaimana sebuah sekolah (atau intitsi pendidikan lainnya) dari semula yang tidak mengenal IT, lalu menggunakan perangkat IT untuk administrasi, perangkat IT untuk pembelajaran, perangkat IT untuk sumber belajar, It untuk administrasi menjadi sebuah institusi yang menjadikan budaya IT dan budaya belajar berjalan seiring… semua perangkat, resorces perlu dibangun dalam sebuah “roadmap” yang jelas… kalau ada institusi yang mengaku “berbasis IT” perlu dipastikan apa yang dimaksud “berbasis IT”? — so, kita bisa memandang IT sebagai “alat”, sistem, budaya atau apa saja… sangat tergantung pada “kemauan dan kemampuan serta fokus” perubahan kita… saya ikut distance learning untuk sebuah di sini untuk menambah “knowledege dan skill” saya di sini, yang saya alami kita memerlukan: budaya belajar dan budaya IT yang seiring sejalan untuk ketercapaian pembelajaran… sekaligus juga bagi “perancang sistemnya”…. bukan semata “menyediakan” namun juga harus merancang terbentuknya “budaya IT dan budaya belajar”…June 10 at 1:55am · Unlike · 3

Ellen Kristi menarik sekali, pak Adriano! saya setuju, secara filosofis tak mungkin ada suatu pemikiran yang tak punya landasan metafisik. orang yang bilang bahwa IT tidak punya mazhab mungkin adalah kaum positivis yang tidak menyadari pernyataannya itu adalah suatu mazhab tersendiri. masalahnya barangkali adalah banyak teknolog dan ilmuwan yang tidak berkelana cukup jauh ke tataran filosofis bidang kepakarannya.June 10 at 9:10am · Unlike · 2Harry Santosa wah ini minat saya mba Ellen Kristi , selalu ada kajian filosofis di balik fenomena dan tindakan. Dalam banyak bangsa2 dimana pendidikan hanya mendidik kaum “koeli”, maka seringkali filosofi menjadi tidak penting.

Saya jadi ingat tulisan seseorang yg mengkritisi penerapan high-tech di Indonesia yang tidak selaras dengan budaya dan perubahan sosial.June 10 at 9:21am · Like

Sabrul Jamil Hahaha .. besar kemungkinan sy termasuk IT Koeli tsb, yg cuma ngerti aspek teknis dari pekerjaan saya :DJune 10 at 6:28pm · Unlike · 1Harry Santosa sama dong ustadz Sabrul Jamil :-)June 10 at 6:37pm · Like · 1

Adriano Rusfi Mas Harry Santosa, Deddy Rahman dan Sabrul Jamil, sebulan yang lalu saya mendesain Mapping and Charting Ability Test, untuk meng-assess calon tenaga Outsourcing untuk programmer di sebuah perusahan minyak asing besar (55 orang), dengan masa kerja terendah 3 tahun. Ternyata skor tertingginya 32 (skala 0 – 100).

Ada lima aspek yang saya nilai : Clearness, Systematic, Comprehensiveness, Integration, and Direction. Tampaknya masalah besar terdapat pada aspek Integration (skor maksimal : 18) dan Comprehensiveness (skor maksimal : 23)

Tampaknya memang kedua faktor ini yang menyebabkan dunia IT di Indonesia kehilangan visi dan perspektif : hanya mengeksekusi order, dan nggak punya Indonesian Style of ITJune 11 at 12:55am · Unlike · 3

Adriano Rusfi Terus ditunggu sharingnya akh Rahmat Saripudin. Kita perlu mengkonsep The Indonesian Style of Educational IT. Semoga kekeliruan kita saat belajar konsep SKS ke Amerika tak terjadi lagi : Belajar prosedur dan manajemen SKS, tapi nggak belajar filosofi dan konsep SKS.

Akhirnya sistem SKS yang dijalankan di Indonesia saat ini sangat banci : Badannya Anglo-saxon, ruhnya ContinentJune 11 at 1:14am · Unlike · 2

Adriano Rusfi Mas Harry Santosa, di lembaga konsultan IT yang saya tangani selama 2 tahun itu, akhirnya saya tancapkan sebuah visi yang pernah saya sampaikan di group ini : “Indonizing The World with My IT-based Consulting”.

Walaupun saya sudah tidak menanganinya lagi, tapi saya sangat berharap bahwa lembaga tersebut mampu mewujudkan dua hal : Transformasi dari IT Consulting menjadi IT-based Consulting; dan mewujudkan Indonesian Style of ITJune 11 at 1:21am · Unlike · 3

Deddy Rahman Kemarin saya sempat ngobrol panjang dengan Roby Muhammad (Social Scientist, Dosen UI) di sebuah coffee shop di margonda (halah, yg ini ga penting).

Beliau memaparkan tentang IT seperti apa yg cocok untuk Indonesia. Lalu keluarlah banyak analisa…bla…bla… yang intinya:

– Indonesia tak bisa seperti silicon valley, karena budaya entrepreneurshipnya yang tidak mendukung. di Silicon Valley, kegagalan dirayakan. di indonesia, kegagalan dianggap sesuatu yang memalukan.

– Indonesia tak bisa seperti bangalore, karena karakter orang indonesia bukan scientist. di bangalore, ada ratusan ribu IT scientiest, di indonesia, bisa dihitung dengan jari.

– lalu dicari jawaban, seperti apakah karakter IT di Indonesia ? ada sedikit pencerahan, yakni banyak penelitian yang mengatakan bahwa:

>> orang Indonesia hebat secara personal, tapi tidak secara manajerial. ini membuat hampir dianggap mustahil sebuah industri IT bisa besar dan menjadi yg terhebat di dunia. Tapi, secara personal, orang Indonesia bisa melakukannya, terbukti, hampir setiap kejuaraan software di dunia selalu ada nama orang Indonesia di situ.

>> orang Indonesia itu kreatif. banyak karya2 kreatif-nya yg mendunia, walau belum bidang IT. tapi ini menunjukkan bahwa ada potensi besar yang belum tergali. saya jadi ingat iklan iwan fals ttg sebuah merek kopi, katanya: “karakter orang Indonesia: kuat, berani, dan berjiwa seni”. Terlepas dari beliau emang seorang seniman, tapi ada kebenaran pada kata2 “berjiwa seni”

setelah panjang lebar berdiskusi selama 2 jam lebih…diambillah kesimpulan sekaligus action yg harus dilakukan, terkait dengan wilayah dimana kami berada, depok. Yakni:Kami akan membangun “School of Arts” di depok. Tujuannya agar seluruh aspek pengetahuan dan teknologi yang ada di depok dan sekitarnya (baca: sekitarnya = Indonesia) akan terpengaruh dengan semangat “berjiwa seni” yang akan disebarluaskan dari sekolah tersebut. Insya Allah, bersama pakarnya, bang Lendo Novo, mimpi tersebut bisa terwujud. Amin…

Insya Allah, dengan lahirnya “School of Arts” maka akan terlahir juga IT yang berkarakter Indonesia. Tidak hanya IT, tapi seluruh bidang pengetahuan dan keahlian. Insya Allah… :)June 11 at 5:44am · Unlike · 5

Bayu Widyasanyata yang menarik.. “hebat secara personal, tapi tidak secara manajerial”, dibacanya mungkin sbg “secara teamwork” atau “kerja tim”.

penyakit utamanya kalau sulit ber-teamwork rata2 adalah HATI. tak mau dikritik, tak mau kawan maju/senang, egois, tak mau memberi/sharing ilmu, tak mau legowo/menerima, tak mau diberitahu/memberitahu, tak mau take ownership, tak mau berfikir end-to-end (kerja sendiri/soloist), dibawa ke hati / personal (bukan dipikir) dan kawan2nya yg membuat teamwork mandeg tak bergerak banyak…

yuuk kita BEKERJA BERSAMA-SAMA!June 11 at 6:27am · Unlike · 5

Ellen Kristi apakah pak Adriano Rusfi sudah pernah mengulas lebih menyeluruh tentang “badannya anglo-saxon, ruhnya continent” terkait sistem SKS? kalau ada bacaan tentang itu, saya mau simak. saya belum terlalu paham tentang statement di atas. sebagai dosen, itu akan jadi informasi yang penting sekali. mohon petunjuknya.June 11 at 6:49am · Unlike · 3

Sabrul Jamil ‎.. Makin menarik aja .. (garuk2 dagu)June 11 at 7:57am · LikeHarry Santosa sepakat mas Bayu Widyasanyata , itu akibat pendidikan sejak kecil yg lebih menghargai kehebatan individu daripada kehebatan teamwork dgn menghargai keunikan potensi masing2. Bila berjamaah adalah kewajiban dalam agama, maka pendidikan berorientasi kerja berjamaah yg menempatkan tiap anggota team sesuai keunikannya adalah keharusan :-)June 11 at 8:02am · Like · 5

Sabrul Jamil mungkin dulu kita kebanyakan nonton film Rambo ya bang ust Harry Santosa ? :DJune 11 at 8:19am · Unlike · 1

Asih Subagyo Bang Deddy Rahman : Hmm uraian yang menarik. Tetapi menurut saya, ada 1 hal lagi yang menjadi sorotan saya, yaitu ketidak mauan atau ketidak mampuan Software Company di Indonesia meng-adopt international standard, semisal CMMI. Hanya dalam hitungan jari, Software Company di Indonesia yang sudah memiliki sertifikat CMMI ini. Untuk urusan ini, tidak usah jauh2 membandingkan dengan Silicon Valley dan Bangalore, ibarat membandngkan dengan langit dan sumur. Saat ini, dengan Malaysia pun, untuk urusan men-adopt CMMI ini kita kalah jauh. Padahal dengan meng- implementasikan CMMI ini, maka urusan penyakit yang di sampaikan Mas Bayu Widyasanyata, akan tereliminir. Bedanya, Software Company di Indonesia berjuang sendiri untuk mendapatkannya, sementara Malaysia di dukung oleh Government. Disisi lain, mentalitas IT Company di Indonesia, masih sebagai pedagang ataupun broker. Paling tidak ini bisa dilihat dari IT company yang besar di Indonesia. Paling banter sebagai System Inegrator. Belum ada yang berani untuk berinvestasi membuat product kebanggan Inonodesia. ‘Ala kulli hal, masih banyak PR kita, untuk menjadikan IT kita, menjadi pemenang di negeri sendiri. *kamisedangtertatih-tatihuntukmendapatkanCMMI#2InsyaAllah2tahunlagi#June 11 at 9:38am · Unlike · 6

Asih Subagyo Berikut link untuk melihat IT Company yang sudah lolos penilaian CMMI, bisa di lihat by country maupun level. Sila kunjungi : https://sas.sei.cmu.edu/pars/pars.aspx .June 11 at 12:22pm · Like

Sabrul Jamil Kalo mau tahu tentang CMMI nya terlebih dahulu, link mana yg for dummy mas Asih Subagyo ?June 11 at 12:23pm · Like

Asih Subagyo disini : http://www.sei.cmu.edu/

Software Engineering Institutewww.sei.cmu.eduSEI Home PageJune 11 at 12:28pm · Unlike · 2 ·

Rida Hidayati Bang Deddy Rahman….kapan itu jadinya ??? o iya, kalau yg keahliannya mikrotronika macam kak Riza Muhida itu bisakah diintegrasikan juga ke sana ???June 11 at 3:42pm · Unlike · 2

Deddy Rahman Asih Subagyo saya pernah mengimplementasikan CMMI level 2 di project Cikarang Listrindo… hasilnya, para manajer CL benar2 kagum dengan hasil kerja kami yg luar biasa, padahal mereka punya puluhan vendor software lainnya…itu baru CMMI Level 2 (yg gak perlu sertifikasi), gimana kalo CMMI level 5… heheheJune 11 at 5:16pm · Like

Deddy Rahman pernyataan saya ttg ” hebat secara personal, tapi tidak secara manajerial”… mohon tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan pendidikan apalagi kesalahan hati🙂 … bukan itu yg saya maksud, tapi lebih dari karakter dasar orang Indonesia yg udah ada di-DNA-nya bangsa ini. mohon tidak melihatnya secara negatif, tapi lihatlah ini sbg sebuah potensi untuk membangun bangsa, bukan dari model korporasi raksasa, tapi dari ukm-ukm yg begitu kuat, llincah, dan kreatif… yg jumlahnya bisa jutaan di negeri ini. Kalo itu terjadi, insya Allah, bangsa ini akan jadi bangsa yang membuat iri bangsa2 lain… selama kita tidak memahami karakter bangsa sendiri, dan mengukurnya dgn alat ukur yg disediakan oleh buku2 manajerial barat, maka selamanya kita bermasalah dalam pengelolaan bangsa ini…. ***wuih, udah kayak orator ulung aja nih gw😀 ***June 11 at 5:25pm · Like · 2

Deddy Rahman ‎Rida Hidayati sangat bisa bunda… anak2 bunda akan menghasilkan robot2 kreatif dan tepat guna bagi permasalahan bangsa ini… dan yg menarik adalah robotnya akan bercitarasa indonesia… hehehe. para pendiri ITB sudah memahami hal ini, itu sebabnya di ITB ada 3 kelompok studi besar: science-teknologi-seni… ke-tiga-nya tidak bisa dipisahkan. Bila dipisahkan, maka akan ada ketidakharmonisan. Itu sebabnya slogan ITB: in harmonio progressio… :)June 11 at 5:31pm · Unlike · 3

Rida Hidayati Aamiin, Fahri sudah mantap akan magang sama Pak Endri Rachman dulu-kalau nanti kumpul minimal 25 anak saya akan buka kelas lagi sama Kak Riza untuk tetap belajar dasar2 elektronika nya(sedang saya kumpulkan anak2nya), bukan tidak mungkin kita nanti bisa kerjasama ya ^^June 11 at 5:45pm · Unlike · 2

Rida Hidayati Mohon kalau punya teman yg anaknya bersedia digabungkan silahkan ya….standarnya, anak mau berproses- ortu sia nak tidak buru2 mau menyaksikan anaknya jadi juara berbagai lomba (walaupun tetap akan saya update utk memotivasi) dan ketemu dulu-buat komitmen, ditungu ya :)June 11 at 5:53pm · Unlike · 2

Adriano Rusfi Mas Deddy Rahman, gara-gara comment antum yang luar biasa tentang “Indonesian Style of IT”, saya jadi buka sedikit rahasia nih, untuk mendukung kesimpulan antum.

Konsultan IT yang saya konsultani selama 2 tahun itu nama depannya Myindo : My dan Indo – Aku dan Indonesia. Bukan OurIndo. Jadi, memang benar banget, sangat Indonesia, sangat nyeni, sangat gue. Dan setuju juga, belum tentu ini kelemahan.

Makanya, sadar bahwa ini boleh jadi merupakan DNA, dengan sengaja saya bikinin motto buat lembaga tersebut :

“Create solution so IndoneTIa…”June 12 at 8:29pm · Unlike · 2

Deddy Rahman alhamdulillah pak Adriano Rusfi… :-)June 12 at 8:31pm · Unlike · 1Harry Santosa Ustadz Adriano Rusfi …makin yakin bhw makin “gue banget” dalam semua diimensi, atau makin clear DNA sebuah organisme makin memiiliki jalan sukses menuju manfaat yg besar.

Bagaimana bila membuat workshop berkala bagi sekolah2/organisasi/bidang utk menemukan DNA nya? :-)June 12 at 8:36pm · Like · 1

Adriano Rusfi Bu Ellen Kristi, sekitar tahun 90-an saya membaca sebuah buku keluaran Unika Atmajaya tentang Sistem SKS. Sayang judul dan penulisnya saya lupa. (Andreas Harefa ???)

Isinya luar biasa : tentang filosofi, hakekat, prinsip, konsep dan metodologi SKS. Intinya : SKS adalah sebuah sistem prasmanan untuk meracik berbagai kompetensi, yang diurai ke dalam satuan kredit. Konsepnya sangat Anglo-saxon

Pertanyaan pertama : anda ingin punya kompetensi apa ? BUKAN anda ingin jadi sarjana apa ?

Pertanyaan kedua : Jika ingin memiliki kompetensi tersebut, unsur kecakapan apa saja yang harus anda kuasai dan bagaimana komposisi (KREDIT) dari masing-masing unsur tersebut ?

Pertanyaan ketiga : Di fakultas/jurusan/program studi mana anda dapat mempelajari unsur-unsur kecakapan tersebut, baik unsur utamanya (major) maupun unsur pendukungnya (minor) ?

(Fakultas yang menjadi majorlah yang berhak memberikan gelar terhadap kompetensi tersebut)

Pertanyaan ke empat : Jika di universitas/institut anda tak tersedia unsur tertentu yang melengkapi komposisi kompetensi anda, di kampus mana anda bisa dapatkan ?

Konsep SKS ini sebenarnya luar biasa selama memenuhi 2 syarat utama : Universitas benar-benar telah menjadi universe (semesta yang menyatu), bukan sekadar amount of faculties; Pembelajarnya harus mampu melakukan self-learning integration, atau memiliki seorang mentor yang menjadi learning integrator

Apakah perguruan tinggi di Indonesia telah memahami seluruh hakekat SKS dan memenuhi kedua syarat utama ini ? Kenyataannya, Indonesia hanya mengadopsi sisi teknis administratif dari Sistem SKSJune 12 at 8:50pm · Unlike · 2

Adriano Rusfi Insya Allah bisa Mas Harry Santosa. Insya Akhir September di Malang akan dimulai dengan seminar “Menemukan DNA dan Merancang Kurikulum”June 12 at 8:57pm · Unlike · 1

Ellen Kristi sekarang paham konsep anglo-saxon, pak Adriano Rusfi. nanti saya cari tambahan informasi sendiri soal itu. kemudian yang continental, konsep umumnya bagaimana dan letak perbedaannya di mana?June 13 at 4:04am · Unlike · 1

Ellen Kristi seandainya workshop pak Adriano Rusfi itu terbuka untuk umum, saya tertarik untuk ikut. menunggu share informasi lebih lanjut tentang itu, pak.June 13 at 4:05am · Unlike · 1Harry Santosa mba Ellen Kristi , jika berminat kita bisa bekerjasama menyelenggarakan acara tsb di Jakarta , any suggest?June 13 at 5:55am · Like

Ellen Kristi masalahnya domisili saya di semarang, pak Harry Santosa. tapi kalau ada yang bisa saya bantu, saya siap.June 13 at 6:36am · Unlike · 1Harry Santosa Setuju, bikin di Semarang juga Ok mba Ellen Kristi🙂 , tadinya kami memang berencana akan study tour ke Salatiga dan Jogja, namun waktunya belum pas.

Utk workshop Education DNA ini bisa juga rangkaian acara Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang, Salatiga, Jogja. Nanti kita rancang bareng dengan pak Adriano RusfiJune 13 at 6:52am · Like · 1Harry Santosa bang Deddy Rahman , saya mulai menangkap relasi yg dimaksud oleh social scientist ttg karakter bangsa Indoneisa, lalu tiba2 disimpulkan di akhir pembicaraan dengan akan membuat “school of art”. Saya kira sebagai ahli sosial dan budaya, beliau melihat bahwa pembangunan bangsa ini harus konteks dengan kearifan lokal yg dimilikinya, dalam hal ini adalah kekhasan indonesia, dan yg mudah terlihat adalah keanekaragaman budaya (mudah2an termasuk keanekaragaman hayati dsbnya).

Saya sepakat bahwa kemampuan personal tidak dibenturkan dengan kemampuan managerial, saya juga sepakat UKM yang banyak tangguh dan kreatif akan sangat membantu bangsa ini hebat.

Namun kemampuan TeamWork termasuk didalamnya network yang saling berkelindan (mirip neural network) sangat diperlukan utk membangun sebuah orkestrasi yg indah dari beragam keunikan dan kreatifitas masing UKM. Bukankah demikian? Nah saya melihat pendidikan Indonesia, atas semua konsep di atas, ttg keanekaragaman budaya, keanekaragaman hayati, kekhasan Indonesia, kemampuan orchestrating sama sekali tdk dikulturkan dan dikurikulerkan. Begitu bukan?June 13 at 3:26pm

By Harry Santosa in Millenial Learning Center (Files) ·
Written by Adriano Rusfy

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on March 1, 2013, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: