Profetik Parenting: Mendidik Sensitivitas Komunikasi ala Nabi Ibrahim as.

Bagi anak-anak, komunikasi tidak kalah pentingnya, seorang anak yang berkomunikasi dengan baik kepada orang tuanya, akan terlihat lebih fleksibel dan lebih siap menghadapi perkembangan lingkungannya dari pada anak yang di keluarganya kurang terjadi komunikasi dan tertutup.

Itulah mengapa banyak praktisi pendidikan yang merekomendasikan penggunaan secara penuh dan dalam dari “bahasa ibu”, sebelum bahasa lainnya. Alasan sederhana dari penggunaan bahasa Ibu sebelum bahasa asing, terkait komunikasi adalah agar tidak terjadi “mental block” baik dalam mengekpresikan gagasan, dari dalam ke luar, maupun ketika menangkap gagasan dari luar secara tepat dan cepat, baik verbal maupun non verbal.

Setelah mental block terlewati, sasaran berikut dari pendidikan komunikasi adalah sensitifitas komunikasi. Ini adalah tingkatan komunikasi yg lebih tinggi, krn memahami secara dalam dari yang tersirat. Sebagian orang menyebutnya dengan kecerdasan emosi atau emphaty.

Ini akan mengarah pada bentuk apresiasi pada orang lain serta sensitivitas sosial pada permasalahan di masyarakat. Sensitivitas dalam berkomunikasi menjadi hal yang terpenting dan dalam banyak hal menjadi penentu kebahagiaan hidup.

Pelajaran (ibroh) yang terpenting dari profetik parenting yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihisalaam adalah kemampuan mendidik anak utk memiliki sensitivitas dalam berkomunikasi. Dialektika Ibrahim dan Ismail puteranya, terkait perintah Allah untuk berqurban, adalah dialektika ketaatan melalui sensitivitas komunikasi antara anak dan ayah.

Sensitivitas komunikasi dibangun dari tutur bahasa kedua orang tua yang memiliki “kualitas” yang prima, baik pemilihan kata maupun makna. Itulah mengapa mengajarkan sastra menjadi penting bagi anak dan remaja. Sastra adalah seni bahasa untuk mengekspresikan gagasan dengan cara yang halus dan dalam serta mampu menggugah rasa dan fikiran serta mendorong tindakan yg besar.

Itulah barangkali mengapa Umar bin Khattab ra berpesan “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu , karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani”.

Begitulah dialektika yang menggambarkan sensitivitas komunikasi diabadikan alQur’an. Lihatlah, alangkah indahnya ketika seorang Ayah, memanggil anaknya dengan tutur lembut, “Ya Bunayya” (“wahai ananda”).

Lalu meminta pendapat dari anaknya terkait perintah Allah swt, padahal beliau, Ibrahim, Nabi Allah, kuasa untuk melanjutkan perintah dengan perintah.

“Wahai ananda, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?”

Apa jawaban sang anak

“Ya Abaty” (“wahai ayahanda”), kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” QS 37 : 102.

Subhanallah, beyond imagine, pertanyaan untuk “meminta pendapat” dari sang ayah direspon sang anak sebagai “sebuah perintah”. Diperlukan kemampuan mendidik secara sensitive yang luar biasa.

Inilah dialog terindah dan menggetarkan sepanjang sejarah. Dialog yang melukiskan ketaatan dan sensitivitas komunikasi yg tinggi antara ayah dan anak. Terkait Nabi Ismail as, tidak berlebihan bila ternyata alQur’an menyebutnya sebagai Ghulamun Halim, anak yang lembut atau memiliki perasaan yang halus. Mungkin orang sekarang menyebutnya memiliki kecerdasan emosi dan bahasa.

Hikmah dialog ini ternyata lebih indah dari yang kita bayangkan sebatas kemesraan anak dan ayah. Seorang peneliti mengaitkan komunikasi sensitive ini dengan kepemimpinan politik. Roderick Hart dalam risetnya menemukan adanya tiga jenis komunikator publik.

Pertama adalah Noble Selves, orang membicarakan seluruh yang ada di pikirannya tanpa harus merasa, melihat dan menyesuaikan substansi maupun cara bicara dengan lingkungan.

Kedua, kebalikannya adalah Rhetorical reflector, individu yang menaruh perhatian terhadap keinginan lingkungannya sampai dia tidak memiliki keinginan sendiri.

Ketiga adalah Rhetorically Sensitivity, pembicara yang sensitif terhadap lingkungannya dan mempunyai keinginan sendiri. Bila dia mempunyai pendapat berbeda, dia selalu punya cara untuk mengutarakan pendapatnya. Dia akan selalu menyesuaikan cara bicara dengan level, mood dan kepercayaan orang lain.

Rhetorically adaptive indivuals avoid rigidity in communicating with others, and they attempat to balance self-interest with the interests of others (Little John, 2001; 107)

Sampai sini saya kira kita kekurangan pemimpin yang memiliki sensitivitas dalam komunikasi politik maupun komunikasi lainnya.

Dalam bahasa berbeda, Aristoteles mengungkap bahwa negarawan handal dan sukses selalu menyertakan pathos dalam setiap komunikasi politiknya. Pathos adalah sisi sosio- psychologis yang muncul di setiap pembicaraan setiap pemimpin. Secara tidak langsung Aristo ingin mengatakan bahwa seorang pemimpin mestilah mengerti dan peduli terhadap apa yang terjadi pada rakyatnya.

Jadi, dialog antara sang ayah, Nabi Ibrahim as dan sang anak, Nabi Ismail a.s, mustahil muncul dari Ayah yang tidak visioner. Visi Nabi Ibrahim as, seperti yang kita pahami dari doa beliau adalah menjadikan anak dan istrinya sebagai Imam (pemimpin) bagi orang yang bertaqwa.

Dan hanya orang bertaqwalah menurut alQur’an yang mampu mengubah jalan sejarah. Dan hanya pemimpin orang bertaqwalah yang memimpin peradaban yang mampu mengubah sejarah.

Visi pendidikan yang berorentasi melahirkan kepemimpinan, dan visi pendidikan kepemimpinan yang mendidik sensitivitas yg tinggi terhadap permasalahan ummat serta penggunaan media pendidikan berupa tutur dan sastra yang baik utk melatih sensitivitas komunikasi yang dimulai di rumah dan berlanjut di sosial, menurut saya adalah i’tibar (pelajaran) penting yang sepantasnya kita ambil dari sepotong dialog terindah antara ayah dan anak sepanjang sejarah itu.

Wallahua’alam

Selamat Hari Raya Iedul Adha 1432 H
Salam Pendidikan Masa Depan
by Harry santosa

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on November 4, 2011, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: