Pertanyaan Anda… Bodoh!

Carl Sagan dalam bukunya ‘The Demon Haunted World : Science as a Candle In The Dark’ mengatakan :

Every now and then, I’m lucky enough to teach a kindergarten or firstgrade class. Many of these children are natural-born scientists – although heavy on the wonder side and light on scepticism. They’re curious, intellectually vigorous. Provocative and insightful questions bubble out of them. They exhibit enormous enthusiasm…

But when I talk to high school seniors, I find something different. They memorize `facts’. By and large, though, the joy of discovery, the life behind those facts, has gone out of them. They’ve lost much of the wonder, and gained very little scepticism… they’re willing to accept inadequate answers…

Kadang, saya mendapat kesempatan untuk mengajar anak TK atau anak Kelas 1. Banyak dari anak-anak ini adalah ilmuwan alami – mereka gampang kagum, meski skeptisisme mereka agak sedikit. Mereka rasa ingin tahunya besar. Mereka menanyakan pertanyaan – pertanyaan yang ‘dalam’ dan mencerminkan rasa ingin tahu mereka. Mereka menunjukkan antusiasme yang besar.

Tetapi, ketika saya berbicara dengan anak SMA senior, saya menemukan sesuatu yang beda pada mereka. Mereka menghafal fakta, tetapi kebanyakan kekaguman mereka terhadap fakta tersebut sudah hilang dan skeptisisme mereka tak bertambah. Keingintahuan mereka sudah habis. Mereka sudi menerima jawaban yang tidak jelas.)

Carl Sagan lalu menanyakan apa yang terjadi diantara TK dan SMA, yang bisa menghilangkan keingintahuan dan kekaguman mereka terhadap ilmu. Salah satu penyebabnya adalah konsep ‘Pertanyaan Bodoh’.

Pertanyaan Bodoh adalah konsep yang dianut sebagian guru, juga sebagian orang tua bahwa sebagian pertanyaan yang diajukan anak, terutama yang kelihatan simpel (i.e. mengapa bumi bulat? atau apa arti kata X?) itu ‘bodoh’ dan tidak patut dijawab dengan jawaban yang memuaskan. Ini, kata mereka yang menganut konsep ini, adalah cara untuk medidik anak agar tidak mempermalukan diri mereka. Masyarakat Indonesia memang tidak senang menjawab ‘Pertanyaan Bodoh’, tetapi sebagian masyarakat dunia mengorbankan banyak waktu dan uang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sepele tersebut.

Masalahnya adalah bahwa semua pertanyaan adalah ungkapan keingintahuan, termasuk pertanyaan bodoh.

Bila seorang guru menjawab pertanyaan dengan cara yang offhand – misalnya dengan mengatakan “Pertanyaanya si X bodoh!” (biasanya diikuti gelak tawa siswa lain) atau variasinya (eg. “Emangnya Bumi mau kotak apa?”) – maka secara langsung si guru telah mengikis rasa ingin tahu semua murid di kelas dengan membatasi apa yang bisa ditanyakan dan menanamkan bahwa bertanya adalah suatu ‘blunder’ sosial. Pertanyaan tersebut dan pertanyaan serupa seterusnya dilabel sebagai ‘pertanyaan bodoh’ dan orang yang menanyakan adalah bodoh pula. Murid menjadi takut menanyakan sesuatu karena takut dilabelkan murid bodoh. Rasa keingintahuan yang rendah jelas sangat menghambat proses belajar – terutama diskusi.

Masalah lain adalah batasan pertanyaan mana yang dianggap bodoh.
Sebagian guru menganggap pertanyaan yang jawabanya simpel dan seharusnya sudah diketahui murid itu bodoh – tetapi kadang murid yang menanyakan pertanyaan tersebut kurang jelas atau ingin jawabanya dikembangkan. Lagipula, sebagian pertanyaan yang dianggap bodoh sebenarnya jawabanya sangat kompleks, bahkan belum diketahui. Mengapa rumput hijau? Karena klorofil. Tapi mengapa tumbuhan punya kloro-(hijau) fil, bukan punya merahfil? Pertanyaan anda bodoh.

Yang paling parah adalah guru-guru yang menganggap semua pertanyaan yang jawabanya tidak diketahui mereka sendiri adalah pertanyaan bodoh. Mereka melontarkan mantra sakti “Pertanyaan Anda Bodoh” sebagai pelindung ego mereka sendiri dan alasan untuk tidak mencari jawaban yang benar atas pertanyaan tersebut. Guru macam ini kebanyakan juga penganut agama Kunci Jawaban dan pemercaya bahwa guru itu semacam ‘ras terpilih’ yang tidak boleh, tidak bisa salah. Bukankah pandangan ini sudah dihilangkan sejak Orde Baru runtuh? Guru boleh salah. Guru juga manusia. Tindakan guru menutup-nutupi ketidaktahuanya dengan retorika ‘Pertanyaan Bodoh’ adalah tindakan usang dan malah menurunkan rasa hormat murid terhadap guru.

Saya rasa bahwa semua pertanyaan yang diajukan murid harus dijawab guru, betapapun bodohnya. Guru bisa menjelaskan setahu mereka, dengan tambahan “Setahu saya…” agar murid paham bahwa ini bukan jawaban terakhir, dan kemungkinan terpacu untuk mencari jawaban lebih lengkap. Atau guru bisa mengatakan secara jujur “Saya tidak tahu” kalau bisa, juga menambahkan “Nanti saya cari di buku referensi”.

Kata Carl Sagan :
There are naive questions, tedious questions, ill-phrased questions,
questions put after inadequate self-criticism. But every question is a cry to
understand the world. There is no such thing as a dumb question.

Dan saya setuju dengan dia.


http://kritikpendidikanindonesia.blogspot.com/

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on November 4, 2011, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: