ICT Dalam Pendidikan by Adriano Rusfi

ICT PENDIDIKAN : KECEMASAN DAN HARAPAN

Ternyata keliru dan bodoh kalau saya selama ini beranggapan bahawa peran ICT di dunia pendidikan sebatas mendukung sistem administrasi dan manajemen pendidikan belaka. Tidak, ICT telah masuk ke dalam ranah pendidikan Itu sendiri, bahkan telah menjadi sistem pendidikan Itu sendiri. Betapa menyenangkannya bahawa ICT telah meringankan sekian banyak kerumitan pendidikan : mulai dari membuat bank soal, memeriksa PR, menilai hasil ujian, mengukur kompetensi, pembelajaran jarak jauh, atau memantau kegiatan belajar siswa.

Sebagaimana wataknya, ICT telah menyederhanakan yang rumit, mengkategorikan yang acak, mengkuantifikasi yang kualitatif, mengukur yang sebelumnya tak kasat mata, mengkomputasi dan mengkalkulasi. Jelas, ICT membantu pendidikan untuk meningkatkan validiti, mem-breakdown kriteria keberhasilan ke dalam indikator-indikator terukur, serta mengilmiahkan proses pendidikan Itu sendiri : terstandard, obyektif, clear, countable dan measurable. Dan kekagumanpun terus berlanjut.
Mari kita lihat betapa ICT dapat membuat segalanya menjadi mudah

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pemerintah resmi sejak 2006, telah membuat guru dan pelaku pendidikan menjadi tunggang-langgang. Tapi bagi ICT segalanya dapat menjadi mudah dan sederhana. Bukankah kompleksiti berasal dari elemen-elemen, dan kriteria dapat dIturunkan ke dalam indikator-indikator terukur ? Bukankah kebenaran dapat diberikan angka satu dan kesalahan adalah nol, sedangkan sangat baik dapat diberikan angka tujuh dalam sebuah skala kualiti dari 0 sampai 9 ? Wow…

Maka, jika kita ingin mengukur kompetensi seorang siswa dibidang kesekretariatan, sedangkan kompetensi kesekretariatan meliputi elemen filling, surat-menyurat, menerima telepon, membuat jadwal, dan notolensi, dengan demikian kita dapat mengukurnya satu demi satu secara kuantitatif by ICT. Dan, jika masing-masing sub-keterampilan tersebut mendapat nilai A, maka iapun layak diluluskan sebagai seorang sekretaris dengan predikat Cum Laude.

Sampai di sini tiba-tiba saya punya kecemasan. Bagaimanapun seorang sekretaris punya dimensi yang intangible. Dia perlu punya ketulusan, hasrat melayani, gairah dan kehangatan seorang manusia, atau satu set secretarial manner. Saya percaya bahawa para pakar ICT pendidikan sama sekali tak berpretensi bahawa ICT akan menjadi segalanya untuk pendidikan. Kecemasan ini lebih disebabkan karena saya juga menyaksikan gejala ICT fever, ICT mania atau over ICT pada sekalangan pendidik yang kebetulan baru melek ICT.

TERINGAT SEJARAH PSIKOLOGI
Kiprah ICT di pendidikan membuat saya menerawang ke sejarah psikologi nun di abad 19. Setelah melalanglang buana di ranah filsafat dan pseudo ilmiah selama berabad-abad sejak era Socrates, akhirnya psikologipun resmi masuk ke dalam keluarga besar sains. Itu berkat ulah Wilheim Wundt yang mendirikan laboratorium psikologi di Universiti Leipzig, Jerman, tahun 1879.

Berbekal elementisme, psikologi nan ilmiah pun masuk dan diterima baik di Amerika. Amerika yang pragmatis memang cocok dengan elementisme. Lalu racikan keduanya melahirkan aliran Behaviorisme. Di sini perilaku menjadi lebih terurai dan terukur. Proses pendidikan bisa dipahami dalam konteks reward dan punishment. Pavlov menilai proses conditioning pada seekor anjing dapat dilihat pada air liur yang menetes dari mulutnya.

Namun, celakanya, psikologi hampir mati suri dan kehilangan jatidiri justru ketika ia menjadi begItu “ilmiah”, eksperimental dan teknis. Betapa tidak jika psikologi-pun bahkan bukan lagi ilmu jiwa, tapi ilmu perilaku. Sementara Itu kemanusiaan dan kepribadian yang begItu unik, utuh dan kompleks telah mengalami penyederhanaan, reduksi dan pengaplingan. Individu kemudian hanya bisa dikaji dalam wilayah-wilayah yang empirik-rasional, observable, dan terukur
.
Untunglah respons yang tak kalah ilmiahnya bermunculan tak lama kemudian. Paradigma ”baru” datang dari benua Eropa yang terkenal dengan tradisi filsafat dan konstruktivisme yang panjang. Aliran Gestalt membantah anggapan bahawa sebuah konstruk melulu berasal dari elemen-elemennya. Dan adalah tidak benar bahawa badan adalah jiwa yang dilihat dari luar. Metodologi berkembang menjadi lebih kaya, sedangkan statistikpun tampil lebih kualitatif dan menginduksi.

AMERICAN STYLE OF ICT
Kembali kepada persoalan ICT untuk pendidikan. Jujur saja saya memiliki kecemasan bahawa prinsip dan program yang ditawarkan ICT untuk pendidikan terlalu American. Aroma elementisme, simplifikasi dan reduksionisme terlalu kental, serta cenderung mengenyampingkan tradisi dan budaya pendidikan yang ada. Distance learning, misalnya, adalah sumbangan ICT yang luar biasa dalam mengatasi kendala ruang dan waktu bagi pendidikan. Namun apakah kita telah cukup memiliki tradisi dan budaya belajar yang mandiri ?

Banyak contoh yang mengajarkan dan mengingatkan kita betapa mengadaptasi suatu sistem dan pendekatan tanpa memahami latar belakang sistem nilai, filosofi dan psikohistorisnya akan menjerumuskan kita pada peniruan yang berbahaya. Kita telah meniru sistem evaluasi dengan pendekatan multiple choices (pilihan ganda) yang sangat American dan meninggalkan ujian lisan dan essay yang European. Putusan Itu sangat pragmatis, simplifikatif dan reduksionis.

IT’s okay, toh kualiti pendidikan kemenakan Paman Sam tak mengalami degradasi karena pendekatan Itu. Tapi, please, kalau mau pindah kiblat tolong ambil secara utuh. Amerika memang pakai multiple choices untuk mengukur seluruh pencapaian kognitif berdasarkan taksonomi Bloom. Namun demikian, untuk mengukur kemampuan analisis, misalnya, mereka mengujinya dengan soal-soal yang satu pertanyaan saja bisa menghabiskan dua halaman kertas.

APAKAH ICT PUNYA MAZHAB ?
Terus terang, saya adalah orang yang awam tentang ICT. Dan sejumlah pelaku ICT berusaha meyakinkan saya bahawa (hingga saat ini) ICT tidak memiliki mazhab. Tapi secara filosofis dan experiential saya meyakini bahawa ICT memiliki mazhab. Dan mazhab yang sangat berkuasa saat ini adalah American Style of ICT nan elementik, simplisistik, reduksionik, analICTik, deskriptif, kuantitatif, obyektif, biner, dan linier.
Keyakinan ini berangkat dari pengalaman persentuhan psikologi dengan ICT yang sangat American.

Untunglah, bersamaan dengan Itu, ICT yang lebih European juga hadir untuk menawarkan alternatif. Mereka menawarkan jasa ICT yang lebih kualitatif, humanis, inferensial, multi-interpretatif, multi-dimensi, dan intersubyektif. Mereka menawarkan jasa pengambilan dan pengolahan data, namun memberikan kewenangan sepenuhnya kepada para psikolog untuk menyimpulkan dan menginterpretasikannya.

EUROPEAN I T OR CONFUCIAN I CT : MUNGKINKAH ?
Tulisan cukup panjang ini sebenarnya hanyalah undangan kepada para pelaku pendidikan dan ICT pendidikan untuk berdiskusi sekaligus tawaran untuk melihat kemungkinan bahawa teknologi tak pernah sepenuhnya bebas nilai. Determinasi ICT ke ranah pendidikan harus diterima dengan riang dan tangan terbuka karena faktanya memang sangat berguna, namun sekaligus perlu dimaknai dan dijalankan dengan kearifan lokal.

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on October 18, 2011, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: