Menggagas Pendidikan yang Membebaskan Desa (Case Study: Karawang)

# Oleh Vina Kurnia: Penulis adalah salah satu siswa dan penggiat Desaku: Sekolahku yang ada di Karawang. Sekarang menjejak bumi di Karawang, tepatnya di Desa Sukapura, Kec. Rawamerta, Karawang.#

Kehidupan di suatu negara adalah suatu sistem yang terdiri atas subsitem-subsistem yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Di Indonesia, sistem pemerintahan nasional yang melingkupi seluruh wilayah Indonesia menjadi pucuk tertinggi sistem pemerintahan. Di bawahnya terdapat sistem pemerintahan provinsi, kabupaten/kota, hingga pemerintahan desa.

Kenyataan ini menunjukan bahwa desa merupakan wilayah yang juga penting dalam sebuah bangsa. Belum lagi kenyataan di Indonesia menurut hasil sensus tahun 2000, sekitar 60% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. Sebagai sebuah negara agraris yang luas, Indonesia memiliki lebih dari 70.000 desa. Desa-desa tersebut mempunyai potensi yang bisa dikembangkan perekonomian masyarakat. Dari segi sumber daya lahan, iklim, manusia, dan sosial budaya, desa mempunyai potensi yang tidak kecil.

Ketimpangan pembangunan antara desa dan kota telah memicu permasalahan yang menghambat perkembangan suatu desa. Pembangunan yang terfokus di kota menjadikan magnet penduduk desa. Angka urbanisasi pun semakin tajam, akibatnya desa menjadi wilayah yang merana. Keadaan ini tidak boleh terus menerus dibiarkan di Indonesia yang merupakan negara desa. Perkembangan desa akan sangat berpengaruh besar pada roda perekonomian nasional. Jadi, saatnya mewujudkan kemakmuran bangsa melalui pembangunan desa.

Bicara tentang Karawang, maka kita bicara tentang kota strategis yang dekat dengan pusat kekuasaan, masyarakat yang agamais, kaya akan warisan budaya, nilai–nilai luhur tradisional, sumber daya alam yang melimpah berupa sektor pertanian, perikanan, pertumbuhan ekonomi yang baik, dan tentunya sumber daya manusia yang melimpah.

Karawang merupakan daerah yang berkembang pesat karena perkembangan pada sektor industri dalam skala besar (kawasan industri), sedang dan kecil (zona industri). Luas lahan industri di kabupaten Karawang, seluruhnya berjumlah ±19.005,1 Ha terdiri dari: kawasan industri 5.837,5 Ha, kota industri 8.100 Ha, zona industri 5,117,6 Ha. Adanya alokasi lahan industri dengan jumlah yang cukup besar tersebut menjadi daya tarik bagi masuknya investor dan tenaga kerja dari dalam maupun luar daerah Kabupaten Karawang. Sampai dengan akhir tahun 2000 jumlah investor yang masuk ke Kabupaten Karawang terdiri dari : Kawasan industri 19 perusahaan, kota industri 2 kawasan, zona industri 298 perusahaan.

Angka yang begitu fantastik untuk sebuah daerah di Indonesia, lalu bagaimanakah nasib pendidikan di karawang untuk mengimbangi kemajuan perkembangan sektor industri?

Karawang terkenal dengan program pemberantasan buta huruf bagi masyarakat yang belum bisa membaca, pengalaan besar-besaran dicanangkan oleh pemerintah daerah sampai ke desa-desa. (red : silahkan simak berita-berita khususnya di website Pemkab Karawang!) Apakah program itu tepat sasaran?

Data yang saya dapatkan di lapangan, banyak sekali masyarakat yang mengikuti program tersebut (pemberantasan buta huruf) adalah orang-orang yang sudah bisa membaca. Mereka berdalih : “lumayan, dapat amplop”. Sungguh miris sebuah program yang “show up” ke khalayak ramai, ternyata di lapangan masyarakat memahaminya pada tataran ekonomi bukan konteks pendidikan untuk mencerdaskan pribadinya.

Belum lagi, menjamurnya sekolah-sekolah kejuruan yang pada akhirnya mendidik siswa untuk menjadi buruh di pabrik, tidak adanya penanaman kesadaran pada siswa untuk membangun usaha sendiri dan membuka lapangan kerja untuk masyarakat sekitar. Kredibilitas guru yang dipertanyakan, guru yang seyogyanya menjadi tauladan bagi siswa seakan berubah menjadi ‘monster’ yang menakutkan bagi siswa dikarenakan terhimpit masalah ekonomi, siswa dijadikan pelampiasan kekesalan, kemarahan yang dibawa dari rumah ke sekolah sehingga tanpa disadari proses pembelajaran terganggu karena hal yang sepele.

Sekolah merupakan tempat mencari uang dan bukan lagi tempat untuk belajar dengan rasa senang bersama teman-teman, siswa dijadikan objek atas nama pendidikan, dan pada akhirnya ada stigma terbangun di masyarakat bagaimana mengembalikan modal yang telah dikeluarkan oleh orang tua untuk anak yang telah diberi ilmu harus bekerja dan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya? Masyarakat melihat itu hal yang sangat wajar dan menjadi budaya yang turun temurun sampai kapanpun.

Jika ini terus dibiarkan, maka kehancuran umat manusia akan begitu dekat tidak usah menunggu kiamat yang telah dijanjikan Tuhan dalam kitab-kitabnya. Karena, kitalah Tuhan itu sendiri yang membuat kehancuran umat manusia termasuk diri kita.

Dalam gerakan pendidikan yang memanusiakan perlu kita garis bawahi bahwa gerakan ini merupakan gerakan akar rumput yang harus dibangun di desa-desa, seperti yang telah saya jelaskan di atas bahwa desa mempunyai peranan yang paling vital untuk sebuah pembangunan di Indonesia karena Negara Indonesia merupakan ‘negara pedesaaan.’ Dalam hal ini, pembangunan akar rumput bisa kita mulai dari desa. Desa mempunyai resource-resource (sumber daya) yang bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi siswa, tidak mencerabut siswa dari akar kebudayaannya, dan mengembalikan siswa pada bumi yang dipijaknya.

Siswa akan lebih didekatkan dengan permasalahan-permasalahan masyarakat, dan pada akhirnya tergugah kepekaan sosial untuk mencarikan solusi memperbaiki keadaan masyarakat dengan ilmu yang dimiliki. Disisi lain, masyarakat juga mempunyai peranan yang sangat penting menjadi “steakholder” dalam pelaksanaan pembelajaran sekolah-sekolah komunitas. Siswa akan dengan mudahnya belajar tentang alam tanpa disekati oleh kelas-kelas yang membuat pikiran ter-kotak-an. Siswa bisa belajar di bengkel-bengkel masyarakat. Siswa bisa langsung belajar dengan orang yang expert di bidangnya, tidak perlu menjadi lulusan fakultas pertanian di sebuah universitas ternama, karena siswa yang belajar di sekolah komunitas, bisa belajar langsung kepada petani yang setiap hari berada di sawah. Masyarakat menjadi guru bagi siswa, begitu juga siswa menjadi guru bagi masyarakat.

Tidak akan ada istilah, kaum penindas dan kaum tertindas dalam proses pendidikan. Siswa merupakan subjek pembelajaran yang pada akhirnya mereka bisa memberikan kontribusi kemajuan desanya, dan guru hanya menjadi pendamping bagi ide-ide kreatif siswanya. Tidak akan ada lagi istilah sekolah mahal, karena semua sumber pembelajaran telah disediakan oleh alam. Masyarakat dan “knowledge for all” bisa terwujud. Anak-anak yang kurang mampu, bisa merasakan nikmatnya belajar dan mempunyai ilmu untuk kebermanfaatan umat manusia.

Tidak akan ada lagi istilah desa tertinggal, karena seyogyanya pendidikan mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada, dengan Sumber Daya Manusia yang tidak melupakan daerahnya sendiri dan pergi mencari uang di kota. Bahkan, desa bisa memberikan jawaban akan pemenuhan perekonomian bagi masyarakatnya dengan berdirinya lapangan kerja milik ‘pribumi.

Tidak akan ada lagi istilah pengalihfungsian lahan yang begitu mudah, karena orang-orang desa bukanlah manusia tolol yang akan menjual lahannya untuk industri yang hanya memberikan dampak negatif berupa polutan, sosial, dan budaya, akan tetapi mereka adalah orang-orang cerdas yang menghargai alam dan kearifan lokal daerahnya.

Maka dengan itu, penyamaan persepsi tentang sebuah sekolah pembebasan yang memanusiakan perlu kita awali dari wacana ini. Pendidikan berbasis sekolah komunitas akar rumput, bisa kita lakukan dengan menghimpun dan membangkitkan potensi masyarakat dan seluruh elemen yang ada. Karena, persoalan pendidikan bukan hanya milik rakyat miskin dan orang-orang yang terpinggirkan di Karawang, namun juga persoalan bangsa Indonesia dan warga dunia pada umumnya secara keseluruhan—terutama menyadari potensi persoalan yang menumpuk.

Dalam posisi ini, seluruh elemen masyarakat hendaknya mampu bersatu dalam proses pemberian bantuan ini, tanpa harus melihat kembali apa dan siapa yang menolong dan kita tolong. Dengan demikian, kita telah menjaga keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Merintis model sekolah yang memanusiakan manusia, efektif dan bermutu dalam rangka mewujudkan pengetahuan untuk semua (Knowledge for All).

Memelihara dan meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, perjuangan kemanusiaan karena perjuangan bukan hanya dimaknai sebagai sebuah hal yang sarat teologis, tapi perjuangan kemanusiaan justru sebuah pekerjaan yang sungguh-sungguh dan sangat bermakna sosial, serta mampu melampui batas-batas sosio-antroposentris. Menolong sesama yang membutuhkan, adalah suatu hal yang sangat universal dan berdimensi kemanusiaan, dimana merupakan upaya praksis dari interpertasi kita terhadap pesan-pesan moral keagaamaan.

Berpijak dari situlah kemudian harus kita pahami bahwa khususnya di Karawang, perlu adanya proyek berorientasi pembangunan pada sisi pendidikan (red : bukan proyek statistik semata seperti pengentasan buta huruf). Hal ini, seiring dengan usaha dalam memaksimalkan potensi Kabupaten Karawang sebagai wilayah yang mempunyai sumber daya alam maupun manusia, memiliki kekuatan jaringan dan infrastruktur yang rapi, efektif, terlatih serta terorganisir.

Bagaimana dengan desamu?

Source: http://www.karawanginfo.com/?p=2120

About rhayent23ukm

orang biasa yang mencoba menjadi orang yang luar biasa

Posted on January 7, 2012, in pernak pernik. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: